Pengalaman adalah guru yang paling baik...
Demikian Nasehat yang populer terdengar di kalangan masyarakat kita. Nasehat itu banyak benarnya. Lebih-lebih ketika kita akan belajar tentang keluarga dan rumah tangga.
tidak banyak buku dan teori yang tepat menembak sasaran ketika diperlukan solusi atas problem keluarga.
Ilmu membina keluarga lebih banyak diperoleh dari pengalaman.
Itulah sebabnya, dalam nasihat-nasihat perkawinan, keluarga sering diilustrasikan sebagai bahtera yang berlayar melawan badai samudra. Kita dapat belajar dari pengalaman siapapun. Pengalaman pribadi untuk tidak mengulangi kegagalan atau juga pengalaman orang lain selama tidak merugikan pelaku pengalaman itu.
Bila dibuat ibarat, rumah tangga adalah dua sisi dari keping uang yang sama. Ia bisa menjadi tambang derita yang menyengsarakan, sekaligus menjadi taman surga yang mencerahkan. Kedua sisi itu rapat berimpitan satu sama lain. Sisi yang satu datang pada waktu tertentu, sedang sisi lainnya datang menyusul kemudian. Yang satu membawa petaka, yang lainnya mengajak tertawa. Tentu saja, siapapun berharap bahwa rumah tangga yang dijalaninya adalah rumah tangga yang memancarkan pantulan cinta kasih dari setiap sudutnya. Rumah tangga yang benar-benar menghadirkan atmosfer surga, keindahan dan keagungan adalah rumah tangga seorang nahkoda yang pandai menyiasati perubahan. Para penghuninya, disetiap kesempatan selalu menyanyikan lirik lagu milik West Life " Everyday I Love You.."
Betapa eloknya, jika sang ayah dan anak, bahkan sekedar di dalam telepon, saling merindukan sambil mendendangkan bait " Everyday I Love You.." Rumah menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga menjadi tempat sentral kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui penggambaran panjang di tempat mengadu nasibnya masing- masing. Hanya ada satu tempat kembali, baik bagi anak, ibu dan bapak, yaitu Rumah tangga yang mereka rasakan bagaikan surga.
Bayangkan,,setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua. Demikian pula sebaliknya. Betapa eloknya itu rumah tangga. Sebab yang ada hanya cinta dan kebaikan...
Mungkin itu pula alasannya, mengapa ketika Dalai Lama ditanya apa agamanya..?
dia menjawab ringan " My Religion is kindness "..'agama saya adalah kebaikan'
Kebaikan inilah yang sejatinya menjadi pakaian sehari-hari keluarga. Dengan pakaian itu pula rumah tangga akan melaju menempuh badai sebesar apapun. Betapa indahnya keluarga ketika dia hanya berwajah kebahagiaan.
Tetapi,, kehidupan rumah tangga acap kali menghadirkan hal yang sebaliknya. Bukan kebaikan yang datang berkunjung, melainkan malapetaka yang kerap merundung. Suami menjadi bahan gunjingan istri, demikian pula sebaliknya. Anak tidak lagi merindukan orang tua dan orang tua pun tidak lagi peduli akan masa depan anaknya. Bila sudah demikian halnya, maka bukan surga lagi yang datang melainkan neraka yang siap untuk menikam. Benar,,seperti dikatakan Khalil Gibran, bahwa orang tua tidak punya hak membesarkan jiwanya dan mereka hanya boleh membesarkan raganya. Tetapi raga adalah cermin keharmonisan komunikasi yang akan berpengaruh pada masa depan jiwa dan kepribadian mereka.
" Marriage - a book of which the first chapter is written in poetry and the remaining in prose."
' Pernikahan bagaikan sebuah buku yang lembar pertamanya berisi puisi dan lembar-lembar berikutnya berupa prosa '...( Beverly Nichols )
" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang, Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir "
(Ar-Ruum: 21)
" Tiga Golongan yang berhak di tolong Allah yaitu pejuang di jalan Allah, mukatib (budak yang membeli dirinya sendiri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya dan orang yang menikah karena mau menjauhkan diri dari hal-hal yang haram.."
( H.R Tirmidzi)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar